PROBOLINGGO – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wirajaya Desa Warujinggo Kecamatan Leces mulai menerapkan teknologi pertanian ramah lingkungan melalui pelatihan pembuatan nitrobakter dan Jadam Sulfur yang diikuti sekitar 30 petani pada Rabu (3/6/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan-bahan organik lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Warujinggo Ahmadi menyampaikan nitrobakter merupakan bakteri pengikat nitrogen yang dapat dibuat secara mandiri oleh petani menggunakan bahan sederhana dan mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
“Nitrobakter dapat dibuat dari kotoran ternak kambing sebanyak 5 kilogram, gula pasir 1 kilogram, urea 5 kilogram, garam 1 kilogram dan air 200 liter. Setelah difermentasi selama dua hingga tiga minggu, hasilnya dapat digunakan untuk membantu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 30 sampai 50 persen,” katanya.
Sementara POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati menerangkan Jadam Sulfur merupakan insektisida dan fungisida ramah lingkungan yang efektif untuk menekan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
“Jadam Sulfur menjadi alternatif pengendalian hama dan penyakit tanaman yang murah, ramah lingkungan serta dapat dibuat sendiri oleh petani. Dengan penggunaan yang tepat, produk ini mampu membantu menjaga kesehatan tanaman tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan,” ujarnya.

Koordinator PPL BPP Leces Tri Laksono Hendro mengapresiasi semangat para petani yang mengikuti pelatihan tersebut. Menurutnya, penerapan teknologi pertanian berbasis bahan lokal menjadi solusi yang tepat dalam menghadapi tantangan pertanian saat ini.
“Antusiasme petani sangat baik. Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini dapat diterapkan secara berkelanjutan di lapangan sehingga mampu membantu petani mengurangi biaya produksi, meningkatkan hasil panen dan menjaga kelestarian lingkungan,” ungkapnya.
Sedangkan Pengurus Gapoktan Wirajaya Moh Latip mengaku pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru yang sangat bermanfaat bagi para petani. Ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan agar petani semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan sarana produksi pertanian.
“Pelatihan ini sangat membantu petani karena kami diajarkan membuat pupuk hayati dan pestisida sendiri dari bahan yang mudah diperoleh. Harapannya ke depan ada pelatihan lanjutan agar petani semakin memahami pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan,” kata dia. (tri)
