Kamis, 23 April, 2026
- Advertisment -
Google search engine

Kementerian Kehutanan Supervisi Tapal Batas Hutan untuk TPA Sampah di Ponorogo 

PONOROGO – Muncul kepastian Ponorogo segera memiliki tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah yang baru. Lokasinya tetap di Desa Mrican, Kecamatan Jenangan, dengan area seluas 9,377 hektare yang menempati lahan milik negara di bawah pengelolaan Perum Perhutani.

Proses supervisi pematokan tata batas lokasi yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ponorogo bersama Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XI Jogjakarta–sebagai perwakilan Kementerian Kehutanan– berlangsung Kamis (16/4/2026).

“Untuk memastikan kesesuaian antara patok batas di lapangan dengan peta perencanaan yang menjadi dasar perizinan,” kata Kepala UPTD Pengelolaan Sampah DLH Ponorogo Abri Susilo saat ikut turun langsung di lokasi.

Menurut dia, supervisi patok batas di lokasi menjadi bagian penting sebelum berlanjut ke tahap pembangunan. Kementerian Kehutanan hendak memastikan batas-batas lahan hutan yang berada di pangkuan RPH Tambaksari-KPH Madiun untuk TPA Mrican Baru itu sudah sesuai peta persetujuan. “Memang sedikit ada pergeseran, tetapi masih dapat ditindaklanjuti sesuai mekanisme,” katanya.

Abri mengungkapkan, pihaknya bakal menyiapkan detail engineering design (DES), feasibility study (FS), dan master plan setelah seluruh tahapan tata batas dan administrasi rampung. Sesuai jadwal, proses lelang berlangsun sekitar Mei hingga Juni 2026. “Pembangunan dimulai sekitar Juli 2026,” ungkapnya.

Masih kata dia, pembangunan TPA Mrican Baru diperkirakan kelar selama lima bulan. Pembangunan sudah menyentuh sanitary landfill, pos operasional, timbangan, kantor, serta fasilitas dasar pengelolaan sampah termasuk pemilahan awal. “Sesuai target, TPA baru sudah beroperasi awal tahun 2027,” kata Abri.

Sementara itu, Budi Dwi Hartanto, perwakilan BPKH Wilayah XI Jogjakarta, menambahkan, supervisi tata batas ini merupakan bagian dari verifikasi akhir sebelum terbit izin persetujuan penggunaan kawasan hutan. Proses rekonstruksi batas harus berbasis dokumen dan tidak dapat dilakukan secara sepihak.

“Kami melakukan supervisi terhadap hasil penandaan batas yang dilakukan oleh DLH Kabupaten Ponorogo untuk memastikan kesesuaian dengan instruksi Dirjen Planologi Kehutanan,” ujarnya.

Pihaknya merasa perlu merujuk dokumen lama peninggalan Belanda tahun 1929 sebagai dasar pembanding. Budi menyebut perlu rekonstruksi batas luar area persetujuan yang melibatkan Badan Pertanahan Nasional (BPN), Bapperida, Dinas Pekerjaan Umum, hingga unsur kecamatan. (*)

Advertisementspot_img

Populer

Pemkab Lamongan Usung Strategi Komprehensif dan Terintegrasi Atasi Persoalan Sampah

LAMONGAN - Pemerintah Kabupaten Lamongan terus memerkuat komitmennya dalam...

Jatim Puspa Plus Dorong Desa Mandiri, Perempuan Jadi Ujung Tombak

SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong pemberdayaan...

Wujud Kepedulian, Pemkab Nganjuk Salurkan Bantuan untuk Warga Sumengko

NGANJUK - Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Badan Penanggulangan Bencana...
Advertisementspot_img

Terbaru

Komunitas Pecinta Satwa Ramaikan Rangkaian Harjakapro ke-280 di Alun-alun Kraksaan

PROBOLINGGO - Memasuki hari keenam rangkaian Hari Jadi Kabupaten...

Gubernur Khofifah Lepas Kloter Pertama Jemaah Haji Embarkasi Surabaya

SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara...

Haji 2026: Saudi Siapkan 12.000 Penerbangan dan 3,1 Juta Kursi Penumpang

MAKKAH - Pemerintah Arab Saudi mengaktifkan kesiapan tertinggi di sektor...

Peringati Hari Kartini 2026: Gubernur Khofifah Ajak Bergerak Bersama Turunkan Angka Kematian Ibu

SURABAYA - Memeringati Hari Kartini Tahun 2026, Gubernur Jawa...

Ngopi Sambil Nikmati Senja Glenmore, Sensasi Destinasi Baru di Kaki Gunung Raung Banyuwangi

BANYUWANGI - Destinasi wisata di Banyuwangi seolah tak ada...

Terkait