PROBOLINGGO – Di bawah langit senja yang perlahan meredup di kawasan Seruni Point Bromo, gelaran Bromo Sunset Music and Culture kembali menyapa para penikmat wisata, Sabtu (11/4/2026) sore.
Bertempat di amphiteater terbuka yang menghadap langsung ke bentang alam Gunung Bromo, acara ini semakin menegaskan diri sebagai magnet baru wisata berbasis budaya di kawasan Bromo.
Even yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo ini terus menunjukkan geliat positif. Antusiasme pengunjung tampak semakin meningkat dari waktu ke waktu. Tidak hanya didominasi kalangan muda, kini acara ini juga mulai digemari lintas generasi, termasuk para penikmat wisata dari kalangan usia matang yang turut larut dalam suasana.
Pada gelaran kali ini, yang menjadi pembuka sesi kedua dari agenda rutin bulanan ini mengangkat tema “Bromo Sunset Music and Culture: Jogo Bumi”, sebuah pesan kuat tentang menjaga harmoni antara alam, budaya dan manusia.
Kehadiran Bupati Probolinggo dr Mohammad Haris didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris, SE, MM bersama jajaran Forkopimda serta para pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo menambah semarak sekaligus menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap pengembangan pariwisata berbasis budaya.

Bupati Probolinggo dr Mohammad Haris menegaskan selama satu tahun penyelenggaraan, even ini berhasil menarik animo masyarakat yang cukup tinggi. Ia menyebut, Bromo kini tidak hanya menjadi destinasi bagi pecinta alam, tetapi juga ruang ekspresi bagi pecinta musik dan budaya.
“Melalui even ini, wisatawan tidak hanya datang untuk bisa menikmati keindahan alam Bromo, tetapi juga bisa merasakan kekayaan budaya dan ragam musik yang kita miliki,” katanya.
Menurutnya, kehadiran berbagai fasilitas pendukung seperti soft opening kafe Kopi Dewa turut menjadi daya tarik tambahan. Terlebih lagi dengan keberadaan spot ikonik seperti jembatan kaca yang menawarkan panorama tiga gunung sekaligus, Gunung Semeru, Gunung Batok dan Gunung Bromo dalam satu sudut pandang yang memukau.
Ia pun berharap, ke depan jembatan kaca tersebut dapat segera memasuki tahap grand opening sehingga mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar. “Ke Probolinggo itu bukan hanya soal gunung. Kita punya danau, air terjun, pantai hingga pulau-pulau eksotis yang layak untuk dijelajahi,” imbuhnya.

Senja yang turun perlahan di kaki Bromo seolah berpadu harmonis dengan alunan musik dan ragam seni budaya yang ditampilkan. Penampilan dari Cara Band dan Alangga Project menghadirkan nuansa musikal yang hangat.
Sementara sentuhan budaya diperkuat melalui penampilan tari oleh Barya Gantari. Beragam tarian seperti Tari Pesona Jawa Timur, Tari Cita Loka, Tari Bedhaya hingga Tirta Santhi sukses memikat perhatian penonton.
Gerak yang anggun, balutan kostum yang kaya warna serta makna yang mendalam menjadikan suasana kian magis, seolah menghadirkan dialog sunyi antara manusia, budaya dan alam semesta. Bromo pun tidak lagi sekadar lanskap, melainkan panggung harmoni, tempat di mana keindahan alam dan kekayaan budaya saling menghidupkan. (*)
