Rabu, 3 Juni, 2026
- Advertisment -
Google search engine

Tradisi Idul Adha Yang Tetap Lestari di Lumajang, Gema Takbir dan Kambing Berhias

LUMAJANG – Malam takbir di Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, terasa berbeda dari biasanya. Di tengah gema takbir yang bersahut-sahutan dari musala dan rumah warga, enam ekor kambing berjalan perlahan diiringi ratusan warga yang memenuhi jalan desa. Sorot lampu hias memantul pada ornamen warna-warni yang menempel di tubuh hewan kurban itu.

Kambing-kambing tersebut bukan sekadar hewan yang akan dikurbankan pada Hari Raya Idul Adha. Di tangan warga Labruk Kidul, hewan-hewan itu diperlakukan layaknya tamu kehormatan. Tubuhnya dibalut kain, bunga, dan aksesori tradisional yang membuat suasana malam takbiran berubah seperti pesta budaya rakyat.

Anak-anak berlarian di sisi iring-iringan sambil membawa obor dan lampion sederhana. Sementara para orang tua berjalan pelan mengikuti arak-arakan sembari melantunkan takbir. Wajah-wajah mereka memancarkan kegembiraan sekaligus rasa haru menjaga tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Bunyi beduk bertalu-talu dari kejauhan menyatu dengan suara pengeras masjid yang mengumandangkan pujian kepada Allah SWT. Di antara keramaian itu, kambing-kambing berhias tampak tenang berjalan menyusuri jalan kampung yang malam itu dipenuhi warga.

Tradisi menghias dan mengarak kambing kurban sudah lama hidup di Desa Labruk Kidul. Dulu, warga hanya menggantungkan ketupat di leher hewan kurban sebagai simbol penghormatan. Namun seiring perkembangan zaman, masyarakat mulai mengemas tradisi tersebut lebih kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai lama.

Kini, arak-arakan kambing kurban tampil lebih meriah. Kostum warna-warni, bunga, pita, hingga ornamen khas desa dipadukan dalam nuansa budaya lokal yang tetap sarat makna spiritual. Kreativitas warga menjadikan tradisi ini bukan hanya ritual budaya, tetapi juga tontonan rakyat yang menarik perhatian.

Salah seorang warga, Ribut Santoso, mengatakan tradisi tersebut sengaja terus dihidupkan agar generasi muda tidak kehilangan akar budaya desa. Menurutnya, warisan leluhur harus dijaga meskipun dikemas mengikuti perkembangan zaman.

“Dulu sederhana, sekarang dibuat lebih meriah supaya anak-anak muda tertarik ikut melestarikan budaya desa,” ujarnya, Rabu (27/5/2026).

Di balik kemeriahan itu, terdapat filosofi yang masih dijaga masyarakat. Sejumlah unsur tradisional tetap dipertahankan, seperti penggunaan kain putih, bunga, dan “pecok bakal”, yakni sesaji simbolik berisi kopi, gula, beras, pisang, bunga, dan kemenyan.

Bagi warga, simbol-simbol tersebut bukan sekadar pelengkap tradisi. Semuanya mengandung doa dan harapan agar pelaksanaan kurban berjalan lancar, masyarakat diberi keselamatan, dan hubungan antarsesama tetap harmonis.

Menariknya, warga meyakini arak-arakan tersebut juga memberi ketenangan pada hewan kurban sebelum disembelih. Dengan diiringi takbir dan suasana penuh kasih, hewan dianggap lebih tenang sehingga proses kurban berlangsung lebih baik.

Di sepanjang perjalanan, warga saling menyapa dan bercengkerama. Tidak ada sekat usia maupun latar belakang sosial. Semua larut dalam suasana kebersamaan yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Kaum ibu tampak sibuk menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk para peserta arak-arakan. Sementara para pemuda bergotong royong mengatur jalannya iring-iringan agar tetap tertib dan aman hingga kembali ke lokasi penyembelihan.

Tradisi itu secara tidak langsung menjadi ruang pendidikan sosial bagi generasi muda. Anak-anak belajar tentang makna kurban, kebersamaan, dan pentingnya menghormati warisan budaya sejak usia dini.

Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menghadirkan dampak ekonomi kecil bagi warga. Penjual makanan, minuman, hingga pedagang mainan musiman ikut merasakan ramainya suasana malam takbiran di desa tersebut.

Bagi masyarakat Labruk Kidul, Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial dan menjaga hubungan antartetangga agar tetap erat.

Tradisi ini juga menjadi bukti bahwa modernisasi tidak selalu menghapus budaya lokal. Justru melalui kreativitas warga, tradisi lama dapat hidup kembali dengan wajah baru yang lebih menarik tanpa kehilangan makna aslinya.

Kearifan lokal seperti ini memperlihatkan bagaimana masyarakat desa mampu merawat identitas budaya di tengah arus perubahan zaman. Nilai religius berpadu dengan budaya gotong royong dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Di tengah derasnya pengaruh budaya luar, masyarakat Labruk Kidul menunjukkan bahwa tradisi lokal tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial. Mereka menjaga budaya bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk terus dijalankan bersama.

Saat malam semakin larut, gema takbir masih terdengar dari sudut-sudut desa. Arak-arakan kambing kurban perlahan usai, namun suasana hangat kebersamaan masih terasa di wajah warga yang berkumpul di sepanjang jalan.

Tradisi menghias dan mengarak kambing kurban di Labruk Kidul akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia tumbuh menjadi simbol penghormatan terhadap nilai ibadah, persaudaraan, dan identitas budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Lumajang. (*)

Advertisementspot_img

Populer

Bupati Ipuk Apresiasi Dakwah Kemanusiaan Yang Dicanangkan Aisiyah

BANYUWANGI - Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi spirit dakwah...

Jatim Borong Penghargaan di Hari Kearsipan Nasional

JAKARTA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menorehkan prestasi membanggakan...

BPBD Kabupaten Pasuruan Keluarkan Peringatan Dini Potensi Cuaca Ekstrem

PASURUAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan...
Advertisementspot_img

Terbaru

Inovasi Berbasis Kolaborasi, Antarkan Pilang ke Lomba Kelurahan Provinsi Jatim 2026

PROBOLINGGO - Berbagai inovasi yang lahir dari kolaborasi pemerintah...

Pasca Yadnya Kasada: Area Wisata Gunung Bromo, Pura Poten dan Sekitarnya Dibersihkan Secara Gotong Royong

PROBOLINGGO - Pemerintah Kecamatan Sukapura bersama masyarakat dan sejumlah...

Gubernur Khofifah Sambut Kepulangan Jemaah Haji Kloter I, Apresiasi Percepatan Proses Imigrasi

SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyambut...

Respon Cepat Dini Hari, Tim Damkar Mojoagung Evakuasi Ular dari Rumah Warga di Betek

JOMBANG - Kesiapsiagaan dan respons cepat kembali ditunjukkan oleh...

BPBD Kabupaten Pasuruan Keluarkan Peringatan Dini Potensi Cuaca Ekstrem

PASURUAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan...

Terkait