Minggu, 17 Mei, 2026
- Advertisment -
Google search engine

Tembus Mancanegara, Kendang Sentul Kota Blitar Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi Musik Digital

BLITAR – Di tengah derasnya perkembangan alat musik elektrik dan digital, suara kendang jimbe, tiva, hingga rebana tradisional dari Kelurahan Sentul justru terus menggema hingga pasar internasional. Dari tangan-tangan terampil para perajin lokal, alat musik tradisional khas Indonesia itu berhasil menembus berbagai negara.

Salah satu perajin yang konsisten menjaga eksistensi tersebut adalah Muhammad Yefri Firmansyah. Usaha keluarga yang dirintis sejak tahun 2000 itu terus bertahan dan berkembang. Mulai dari kendang jimbe, tiva, dan rebana yang dikerjakan bersama puluhan karyawan di rumah produksinya.

Berawal dari pasar lokal di Pulau Jawa, usaha tersebut kini  mampu menjangkau pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura, China, hingga Amerika Serikat.

Pemasaran yang dilakukan secara aktif melalui media sosial menjadi salah satu kunci berkembang dan terus berjalan stabil. Dalam satu bulan, Yefri bersama para pekerjanya mampu memproduksi sekitar 200 hingga 300 unit alat musik untuk pasar tertentu. Sementara untuk kebutuhan pasar domestik, jumlah pengiriman bisa mencapai sekitar 3.000 unit per bulan.

Harga produk yang ditawarkan pun beragam, mulai dari Rp15 ribu hingga jutaan rupiah tergantung ukuran dan jenis alat musik. Kendang jimbe, misalnya, dijual mulai harga belasan ribu rupiah hingga produk premium bernilai jutaan rupiah. Sedangkan rebana dipasarkan mulai Rp30 ribu hingga Rp500 ribu per buah.

Meski menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku seperti besi dan plastik akibat situasi ekonomi global, produksi kendang milik Yefri tetap berjalan menyesuaikan kebutuhan pasar dan kesepakatan dengan pembeli.

“Kita melakukan komunikasi dulu dengan buyer, dan dijelaskan kondisinya seperti ini, dan ada kejadian seperti perang, dan kita sesuaikan dan kesepakatan dengan buyer. Intinya ekspor masih cenderung sama,” kata Yefri.

Dari usaha kerajinan tersebut, Yefri mampu meraih omzet yang cukup fantastis. Dalam satu bulan, perputaran usaha kerajinan kendang hingga rebana miliknya mampu mencapai sekitar Rp800 juta hingga Rp1 miliar.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kerajinan tradisional tidak selalu kalah oleh perkembangan zaman. Bahkan mampu membawa nama daerah serta menjaga denyut budaya Indonesia. (*) 

Advertisementspot_img

Populer

Prioritaskan Kesehatan Lingkungan, Bakorwil Malang Dukung Relokasi TPS Kaliwaron

SURABAYA - Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang Pemerintah...

Kemenhaj RI Imbau Jemaah Hemat Tenaga Jelang Puncak Haji

JAKARTA - Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mengimbau...

Warga Bangun Drainase dan Perbaiki Jalan Lingkungan, Dua Dusun di Curahpetung Kompak Gotong Royong

LUMAJANG - Semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat kembali...
Advertisementspot_img

Terbaru

Bukti SDM Unggul, Gubernur Khofifah Lepas 1.790 Siswa Magang Kerja Luar Negeri dan Alumni Pekerja Migran

TULUNGAGUNG - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melepas...

Prioritaskan Kesehatan Lingkungan, Bakorwil Malang Dukung Relokasi TPS Kaliwaron

SURABAYA - Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang Pemerintah...

Ajak Pengunjung Berwisata dan Pelajari Bunga Abadi Khas Bromo di Taman Edelweis Wonokitri

PASURUAN - Bunga edelweis, banyak yang mengistilahkan bunga ini...

MUI Tolak Penyembelihan Hewan Dam Haji di Indonesia, Minta Kemenhaj Evaluasi Aturan

JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengambil sikap tegas...

Lumajang Jadi Percontohan Nasional, Ketahanan Warga Hadapi Bencana Tak Hanya Bertumpu pada Infrastruktur

LUMAJANG - Lumajang ditetapkan sebagai daerah percontohan nasional implementasi...

Terkait