BOJONEGORO – Upaya membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana terus diperkuat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro. Pada 2026, BPBD menargetkan pembentukan 45 Desa Tangguh Bencana (Destana) yang tersebar di sejumlah kecamatan sebagai langkah memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dari tingkat desa.
Program Destana menjadi salah satu strategi untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dalam menghadapi ancaman bencana. Melalui program ini, warga didorong mengenali potensi risiko di wilayahnya, meningkatkan kapasitas penanganan bencana, sekaligus mempercepat proses pemulihan ketika bencana terjadi.
![]()
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bojonegoro, Heru Wicaksi, mengatakan pembentukan Destana merupakan investasi jangka panjang dalam membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat.
“Tujuan utamanya adalah agar masyarakat memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman, mengurangi risiko, dan mampu bertindak secara cepat serta tepat saat terjadi bencana,” ujarnya saat membuka kegiatan pembentukan Destana di Desa Pohwates, Kecamatan Kepohbaru, Senin (6/7/2026).
Desa Pohwates menjadi salah satu desa yang dibentuk Destana karena terdapat ancaman banjir luapan saat musim penghujan, angin kendang, serta kekeringan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program BPBD Bojonegoro yang berlangsung mulai 22 Juni hingga akhir Agustus 2026.
Secara keseluruhan, sebanyak 45 desa di lima kecamatan, yakni Kepohbaru, Sugihwaras, Padangan, Ngraho, dan Kedungadem, akan mendapatkan pendampingan dalam pembentukan Destana.
Dalam kegiatan di Balai Desa Pohwates, peserta mendapatkan pemaparan mengenai konsep dan indikator Desa Tangguh Bencana sebagai bekal menyusun langkah mitigasi sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
![]()
Acara diawali dengan sambutan dan pemaparan profil Desa Pohwates oleh Camat Kepohbaru Triguno Sudjono Prio. Selanjutnya, Katim Kesiapsiagaan BPBD Jawa Timur Frysat Wahyu Depyanto menyampaikan pentingnya sinergi pemerintah dan masyarakat dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.
Materi mengenai indikator-indikator Destana kemudian disampaikan oleh Fasilitator Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur, Catur Sudarmanto.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Camat Kepohbaru, Katim Kesiapsiagaan BPBD Jawa Timur, Kepala Desa Pohwates, FPRB Jawa Timur, jajaran BPBD Bojonegoro dan BPBD Jawa Timur, Pemerintah Desa Pohwates, serta masyarakat setempat.
Melalui pembentukan Destana, BPBD Bojonegoro berharap setiap desa memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi ancaman, menyusun rencana penanggulangan, membangun sistem peringatan dini, hingga melakukan penanganan darurat secara mandiri. Dengan demikian, dampak bencana dapat ditekan, baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian terhadap infrastruktur dan kehidupan masyarakat. [tbs]
