Oleh: Ratna Arunika
(Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur)
Bulan Ramadan adalah salah satu bulan yang ditunggu kedatangannya bagi umat muslim, begitu juga dengan masyarakat Indonesia. Bulan yang penuh berkah bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tapi juga ada perayaan di dalamnya. Berbagi makanan saat berbuka. Mulai dari berbagi takjil di masjid, hingga buka puasa bersama di rumah, di masjid, dan berbagai tempat kegiatan yang biasa dilakukan untuk mempererat kebersamaan. Meja berbuka yang penuh warna. Ironisnya sebagian dari keberkahan itu berakhir di tempat sampah.
Namun, di balik suasana religius dan keberkahan ekonomi yang dirasakan para pelaku UMKM melalui meningkatnya aktivitas ekonomi musiman, ada sisi lain yang kerap luput dari perhatian. Dalam kondisi berpuasa, rasa lapar sering kali berubah menjadi “lapar mata” yang mendorong kita membeli makanan dan berbagai kebutuhan konsumsi secara berlebihan. Tanpa perencanaan yang matang, belanja dilakukan melampaui kapasitas konsumsi keluarga. Akibatnya, tidak sedikit makanan yang akhirnya terbuang karena berlebih atau tidak sempat diolah. Inilah fenomena yang jarang disorot: lonjakan konsumsi yang berjalan beriringan dengan peningkatan sampah makanan.
Lonjakan yang Konsisten dari Data Konsumsi Setiap Ramadan
Berdasarkan data makro dari Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi rumah tangga Indonesia tumbuh sekitar 5,1%. Bank Indonesia mencatat lonjakan transasksi ritel dan digital 10-20% lebih tinggi dibanding bulan normal menjelang dan selama bulan ramadan.
Sektor makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan rumah tangga menjadi kontributor utama. Dari pola tahunan ini menunjukan pada minggu 2-4 Ramadan konsumsi makanan dan takjil naik signifikan dan puncaknya terjadi 1-2 minggu sebelum Idulfitri.
Berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi masyarakat, berdasarkan laporan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan data kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung pada tahun-tahun sebelumnya volume sampah saat Ramadan meningkat 10-15%. Pada puncak lebaran bisa mencapai 20-30% lebih tinggi, di mana komposisi sampah organik (food waste) tetap dominan 40-50%. Risiko lingkungan dan kebencanaan ikut meningkat secara musiman.
Dari data KLHK timbunan sampah nasional Indonesia antara 68-70 juta ton/tahun. komposisi organik (food waste) rata-rata 45% maka jumlah food waste tahunan adalah 31,5 juta ton/tahun. atau per harinya sebesar 86.300 per hari. Pada saat Ramadan food waste mengalami kenaikan 15% maka tambahan sampah selama bulan 30 hari di bulan Ramadan menjadi 388.350 ton.
Metana 28-34 kali lebih kuat dari CO2 dalam memerangkap panas. Jika dikonversi setara dengan 670 ribu ton CO₂e, jumlah ini hampir sama dengan emisi tahunan ratusan ribu kendaraan bermotor. Walaupun satu Ramadan tidak langsung mengubah suhu bumi secara drastis, akumulasi tahunan akan memperkuat tren pemanasan global. Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan iklim.
Dari Food Waste ke Risiko Bencana
Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim. Dampaknya yang sudah bisa kita rasakan di antaranya hujan ekstrem yang lebih sering, banjir meningkat. Kekeringan panjang yang berdampak pada gangguan pertanian dan ketahanan pangan. Kenaikan mula air laut yang menyebabkan banjir rob di wilayah pesisir.
Menurt Badan internasional PBB untuk pengurangan resiko Resiko bencana UNDRR (United Nations office for Disaster Risk Reduction) menjelaskan bahwa resiko bencana tidak hanya berasal dari bahaya alam (hazard), tetapi dari interaksi antara : paparan (exposure), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas adaptif masyarakat (capacity). Food waste bukan hanya soal sampah, tetapi tekanan tambahan pada sistem yang sudah rapuh.
Dalam teori Pressure and Release (PAR) model ada tiga tahap sebelum terjadi bencana yaitu akar masalah (root case), tekanan yang berkembang (dynamic pressures), dan kondisi yang tidak aman (unsafe condition). Dalam suasana Ramadan yang penuh semangat dan kelimpahan, tanpa disadari pola konsumsi kita sering berubah menjadi impulsif. Promo dan diskon yang menarik, banyaknya makanan musiman yang dijual pada saat Ramadan, rendahnya perencanaan konsumsi rumah tangga dan kurangnya kesadaran lingkungan menjadi akar masalah kerentanan bencana yang ditimbulkan dari food waste ini.
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Open Dumping, Bom Waktu Lingkungan
Banyak TPA yang dikelola dengan cara dibuang begitu saja di lahan terbuka tanpa pengolahan atau perlindungan lingkungan yang memadai. Sampah hanya ditumpuk, tidak ada lapisan pelindung tanah, tidak ada sistem pengelolaan gas ataupun tidak ada pengolahan air lindi secara baik menyebabkan dynamic pressure semakin besar. Dari kondisi di atas menyebabkan kondisi yang tidak aman (unsafe condition). Drainase tersumbat, mempercepat sedimentasi. Banyak kota besar (Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya) mengalami banjir yang diperparah oleh tumpukan sampah domestik, termasuk sisa makanan.
TPA penuh dan resiko longsor sampah (contoh kasus TPA Leuwigajah, 2005). Penumpukan gas metana juga sering memicu kebakaran di TPA. Air lindi dapat mengandung logam berat, bakteri berbahaya dan mencemari sumur warga. Mencemari air tanah, meningkatkan kadar nitrogen dan fosfor, serta memicu eutrofikasi di sungai dan danau. Air lindi dari tmbunan sampah, terutama sisa makanan, mengandung zat hara seperti nitrogen dan fosfor. Jika masuk ke sungai atau danau, zat-zat ini dapat memicu kondisi perairan terlalu kaya nutrisi. Akibatnya alga dan tumbuhan air tumbuh berlebih dan menutupi permukaan air. Ketika alga tersebut mati dan membusuk, proses penguraiannya menghabiskan oksigen dalam air. Dampaknya bisa menyebabkan Kematian biota air, Penurunan kualitas air minum serta gangguan kesehatan masyarakat. Food waste itu seperti beban tambahan yang memperburuk keadaan, ia menjadi dynamic presure, memperbesar kemungkinan bencana saat ada ancaman.
Ironi di Negeri yang Masih Mengalami Stunting
Dalam laporan United Nations Environment Programme (UNEP) Food Waste Index Report 2024, Indonesia termasuk di antara negara dengan timbulan sampah makanan yang tinggi di dunia, dengan volume sekitar 14,7 juta ton per tahun, termasuk tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Perbedaan angka volume sampah dengan laporan KLHK ini terjadi karena metode penghitungan dan cakupan data yang berbeda. Volume sampah makanan di Indonesia lebih besar daripada banyak negara maju dan berkembang, karena kombinasi faktor populasi besar dan pola konsumsi. Jumlah sampah makanan juga sering dinyatakan sebagai persentase terbesar dari total sampah nasional (sekitar 41%), artinya hampir separuh sampah di Indonesia berasal dari sisa makanan.
Di sisi lain, Indonesia masih mengahadapi stunting, ketimpangan pangan dan akses gizi yang tidak merata. Membuang makanan bukan sekedar isu lingkungan, tetapi juga isu moral dan sosial. tehadap sesama manusia. Kepedulian terhadap kelompok rentan harus menjadi dasar perilaku konsumtif. Sumber daya pangan seharusnya dimanfaatkan secara adil dan tidak berlebihan. Makanan bukan hanya komiditas pribadi, tetapi hasil dari kerja petani, penggunaan sember daya air, tanah, energi dan tenaga manusia. Membuang makanan berarti mengabaikan rantai usaha atas sumber daya yang digunakan.
Mengapa Food Waste di Indonesia Tinggi?
Mungkin kita tidak pernah membayangkan bahwa sepiring nasi yang tersisa di meja makan bisa menjadi persoalan iklim global. Terlebih dalam budaya di Indonesia ketika menyelenggarakan kegiatan, arisan, rapat, hajatan atau buka puasa bersama makanan harus disediakan berlebih sebagai tanda keramahan dan kecukupan. Akibatnya makanan banyak yang tidak habis dan terbuang. Perencanaan belanja yang kurang matang juga menyebabkan bahan kanan bertumpuk dan akhirnya membusuk sebelum sempat diolah dan dikonsumsi. Setiap bahan makanan mempunyai teknik yang berbeda. Penyimpanan makanan yang tidak tepat juga membuat bahan makanan cepat rusak dan akhirnya terbuang sia-sia.
Indonesia sebagai negara agraris membuat ketersediaan bahan makanan melimpah, sehingga kita kurang begitu menghargai sumber makanan tersebut karena merasa mudah mendapatkannya dan harganya murah atau terjangkau. Mindset makanan sisa adalah makanan yang tidak layak. Padahal banyak sisa makanan yang masih bisa dikonsumsi jika disimpan dengan benar. Perilaku ini sering disebabkan karena kurangnya edukasi tentang dampak food waste dan rendahnya kesadaran lingkungan akan dampak gas metana yang disebabkan oleh sampah sisa makanan. Food wastesering bukan soal kemampuan ekonomi, tetapi soal perilaku dan psikologi konsumsi.
Food Waste sebagai Mitigasi Risiko Non-Struktural
Mengurangi food waste adalah bagian dari strategi mitigasi risiko bencana berbasis non-struktural. Memperbaiki sistem, perilaku, dan kebijakan . fokusnya mengurangi kerentanan dan meningkatkan kesiapsiagaan. Hal sederhana bisa kita lakukan untuk berkontribusi menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi sampah makanan ini dengan beberapa hal berikut. Terapkan metode “plan-cook-store”. Membuat menu mingguan sebelum berbelanja, masak sesuai porsi keluarga, dan simpan dengan teknik yang tepat serta beli label tanggal kadaluarsa.
Langkah sederhana lainnya untuk mengurangi timbunan sampah makanan adalah dengan prinsip FIFO. “First in – first out”. Bahan makanan yang lebih dulu disimpan, maka diolah terlebih dulu, mengurangi resiko kerusakan. Mengulah ulang sisa makanan dengan jenis makanan baru juga merupakan kreativitas dapur yang perlu dicoba untuk mengurangi sampah makanan ini. Semisal memasak nasi sisa menjadi nasi goreng,atau jika ada roti yang hampir kadaluarsa dibuat bread puding.
Memahami arti label pada makanan juga penting. Pada label makanan yang bertuliskan best before, bukan berarti makanan berbahaya setelah tanggal lewat. Kita bisa menggunakan indera penglihatan, penciuman dan perasa apakah makanan tersebut sudah tidak layak lagi sebelum dibuang.
Hal sederhana dan bermanfaat lainnyaa yang bisa dilakukan untuk mengurangi food waste ini adalah dengan membuat kompos dari kulit buah, ampas sayur menjadi pupuk tanaman. Ini mengurangi beban TPA secara signifikan.
Ramadan dan Kesadaran Baru
Ramadan adalah bulan pengendalian diri. Maka semangat itu seharusnya juga tercermin dalam pola konsumsi.
Mengurangi food waste berarti kita turut serta dalam mengurangi tekanan lingkungan, mengurangi emisi penyebab perubahan iklim, menghormati hak atas pangan dan menunjukan empati sosial.
Mengubah kesadaran ini lebih penting dari sekedar kesadaranmemahami aspek teknik pengelolaan sampah. Artinya, pengurangan food waste bukan sekadar isu gaya hidup, melainkan bagian dari strategi mitigasi risiko kebencanaan nasional dengan cara mencegah atau mengurangi dampak bencana melalui kebijakan, edukasi, aturan, dan perubahan perilaku.
Di negara yang masih menghadapi ketimpangan gizi, membuang makanan bukan hanya tidak efisien, tetapi juga mencerminkan kurangnya keadilan dan tanggung jawab sosial.
Ramadan seharusnya menjadi momentum bukan hanya untuk menahan lapar dan dahaga saja, tetapi juga menahan dari nafsu pemborosan. Karena dari meja makan kita, menentukan resiko bencana semakin besar atau bisa dikurangi. Jika puasa melatih kita menahan diri dari yang halal sekali pun, maka menahan diri dari pemborosan seharusnya menjadi bagian dari ketaqwaan. Mari jaga dan rawat bumi dari kerusakan karena kekhilafan diri. (*)
