Kamis, 9 April, 2026
- Advertisment -
Google search engine

Jatim Siaga Darurat Puncak Kemarau, Karhutla dan Kekeringan Jadi Fokus Utama

SURABAYA – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan laporan komprehensif mengenai dampak bencana hidrometeorologi serta potensi bencana pada musim kemarau Tahun 2026.

Berdasarkan data yang dirilis pada 7 April 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diprediksi akan lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya.

”Data dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menunjukkan bahwa awal musim kemarau sebagian besar dimulai pada bulan Mei (56,9%). Puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus 2026, yang akan mencakup 70,9% wilayah Jawa Timur, yang memprihatinkan, durasi kemarau terpanjang diperkirakan mencapai 22–24 dasarian atau sekitar 220 hingga 240 hari di 20 Zona Musim,” ujar Gubernur Jawa.

Selain kekeringan, potensi Karhutla pada periode April–Agustus 2026 menjadi perhatian serius. Area yang dinilai sangat rawan meliputi Kawasan TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) karena ekosistem sabana yang luas dan kering, serta aktivitas manusia seperti penggunaan flare dan api unggun oleh wisatawan.

Gunung lain yang diwaspadai meliputi Gunung Lawu, Gunung Arjuno-Welirang (Tahura Raden Soerjo), Gunung Argopuro, dan Gunung Ijen.

Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jatim telah menyiapkan strategi terpadu yang berlandaskan pada Peraturan Gubernur Jatim Nomor 53 Tahun 2023. Mitigasi Karhutla dilakukan melalui pemantauan hotspot via satelit Sipongi, penyiagaan Satgas Karhutla, hingga opsi pemadaman udara menggunakan water bombing.

Untuk kekeringan, pemerintah fokus pada dropping air bersih dan pemberian bantuan tandon air ke lokasi terdampak, belajar dari pengalaman tahun 2025 di mana 1.000 unit tandon telah didistribusikan.

Gubernur menekankan pentingnya sinergi antara BPBD, BMKG, dan masyarakat untuk menghadapi siklus bencana ini agar dampak kerugian dapat diminimalisir.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur saat acara Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Musim Kemarau Jawa Timur Tahun 2026 yang digelar di Dyandra Convention Center, Surabaya, Selasa (7/4/2026) yang dihadiri Wakil Gubernur, Perwakilan Kementerian Kehutanan, Forkopimda Provinsi Jatim, Kepala Daerah, Forkopimda Magetan, Kepala Perhutani se-Jawa Timur dan undangan lainnya. (*)

Advertisementspot_img

Populer

Doa Bersama, Awali Pembangunan Jembatan Garuda di Ambunten Tengah

SUMENEP - Komandan Kodim (Dandim) 0827/Letkol Sumenep Inf Citra...

Cara Banyuwangi Angkat Potensi Lokalnya lewat Festival Durian Songgon

BANYUWANGI – Banyuwangi dikenal sebagai produsen durian di Jawa...

Pemkot Probolinggo Bekali Fisik dan Spiritual Calon Jemaah Haji 1447 H

PROBOLINGGO - Pemerintah Kota Probolinggo menggelar kegiatan Napak Tilas...
Advertisementspot_img

Terbaru

Kali Kebo Sumberurip Bangkit, Ubah Kerentanan Bencana Jadi Kekuatan Wisata Berbasis Edukasi

LUMAJANG - Kawasan yang dahulu identik dengan ancaman erupsi...

Martina Ayu Pratiwi, Penerima Award PWI Jatim 2026 Terpilih sebagai Atlet Terbaik Nasional

SURABAYA - Martina Ayu Pratiwi, atlet nasional cabang olahraga...

Hindari Risiko Konflik, Haji Khusus Diminta Gunakan Penerbangan Direct Flight

JAKARTA - Pemerintah mulai mengantisipasi dampak konflik Timur Tengah...

Gubernur Khofifah Luncurkan SPMB Jatim 2026: Pastikan Proses Transparan, Akuntabel dan Berkeadilan

SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi...

Terkait