LUMAJANG – Kawasan yang dahulu identik dengan ancaman erupsi Gunung Semeru dan banjir lahar kini bertransformasi menjadi destinasi wisata yang bernilai edukatif dan ekonomi. Melalui pengelolaan berbasis masyarakat, Kali Kebo di Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo, menunjukkan wilayah rawan bencana dapat bangkit dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Transformasi ini tidak lepas dari peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kali Kebo yang mengedepankan pendekatan pengurangan risiko bencana dalam setiap pengelolaan kawasan. Dengan perencanaan yang matang dan pemahaman terhadap karakteristik wilayah, destinasi ini kini menjadi ruang belajar sekaligus ruang wisata yang aman dan menarik.
Ketua Pokdarwis Kali Kebo, Heny Sulistyaningati, menegaskan, kawasan yang memiliki riwayat bencana justru menyimpan potensi besar jika dikelola dengan tepat.
Menurutnya, paradigma masyarakat terhadap bencana perlu diubah dari rasa takut menjadi kesadaran dan kesiapsiagaan.
“Selama ini bencana sering dianggap menakutkan dan membuat wilayah terdampak terbengkalai. Padahal, jika dikelola dengan baik dan tetap mengutamakan keselamatan, kawasan ini bisa memberi manfaat besar,” ujarnya saat kegiatan senam bersama keluarga PWRI Wilker Pasirian di lokasi wisata Kali Kebo, Rabu (8/4/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri pengurus PWRI se-Wilker Pasirian dan PWRI Kabupaten Lumajang, sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan wisata lokal berbasis komunitas. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperkuat promosi sekaligus mendorong pertumbuhan destinasi wisata di wilayah Pronojiwo.
Heny menuturkan, meningkatnya geliat pariwisata di Kecamatan Pronojiwo menjadi faktor penting dalam pengembangan Kali Kebo. Arus kunjungan wisata yang terus bertumbuh memberikan dampak langsung terhadap pergerakan ekonomi masyarakat sekitar, mulai dari sektor jasa hingga usaha mikro.
Pronojiwo sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan wisata unggulan di Kabupaten Lumajang, dengan daya tarik panorama Gunung Semeru, hutan pinus, hingga wisata lava tour yang telah menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Kondisi ini mendorong pengelola destinasi untuk terus meningkatkan kapasitas layanan dan kualitas pengelolaan wisata.
“Kami terus belajar dari pengelola desa lain di Kecamatan Pronojiwo agar bisa memberikan pelayanan terbaik bagi para tamu,” imbuhnya.
Dalam upaya mendukung kenyamanan wisatawan, pengelola Kali Kebo juga menjalin kerja sama dengan destinasi di wilayah sekitar, seperti Desa Pronojiwo, Desa Sidomulyo, hingga kawasan wisata Tumpak Sewu. Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem wisata yang saling terhubung dan berkelanjutan.
Selain itu, pengelola berharap adanya dukungan pembinaan yang lebih intensif dari pemerintah desa hingga pemerintah kabupaten. Menurut Heny, Kali Kebo memiliki potensi besar sebagai bagian dari penguatan sektor pariwisata Lumajang, terutama sebagai destinasi wisata berbasis edukasi kebencanaan.
“Destinasi ini memiliki potensi yang tidak kecil untuk mendukung pembangunan pariwisata Lumajang. Kami berharap ada pendampingan dan pembinaan yang berkelanjutan,” katanya.
Transformasi Kali Kebo menjadi destinasi wisata tangguh bencana menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi masyarakat, pemahaman risiko, dan tata kelola yang tepat mampu mengubah kerentanan menjadi kekuatan. Lebih dari sekadar destinasi, Kali Kebo kini hadir sebagai simbol kebangkitan, ketangguhan, dan harapan baru bagi masa depan pariwisata Lumajang. (*)
